top of page

11. Mengapa sepeda?

Mengapa sepeda?

Mengapa bukan motor

atau kendaraan lainnya?

 

Sabu panas luar biasa.

Bersepeda tentu melipatgandakannya.

Angin pun tak banyak menolong.

Bagai disemprot hair dryer di depan muka,

demikian perumpamaan Niko.

Pernah sampai melihat fatamorgana.

Panas juga berarti muatan air harus banyak.

Di jalan yang terlalu menanjak,

harus turun dan mendorong sepeda,

demikian juga di turunan yang berbatu-batu.

Terkadang saya merengek di tengah jalan.

Rasanya sudah mau menyerah.


Lalu mengapa?

 

Sesungguhnya kami terpesona

pada ritme sepeda yang mengijinkan kami

menikmati sekitar dalam gerak lambat.

Pada bagaimana ia membuat kami

membawa hanya secukupnya,

memaknai istirahat,

melintas tak berlebihan.

Pada ramahnya terhadap lingkungan. 

Dan terlebih, pada kesederhanaannya.

Kami bukan atlit,

dan capaian kami bukan pada jarak.

Sepeda sejatinya kami pilih

untuk mendekat dengan sekitar.

Ini adalah pengalaman pertama

kami bersepeda seperti ini.

Dan bisa disimpulkan

ia memang membawa kami

pada percakapan-percakapan,

sapaan-sapaan di jalan,

cerita-cerita yang ditukar,

pada kebaikan-kebaikan,

air yang diberikan cuma-cuma,

tumpangan di sana sini.

Pada hari yang ketujuh,

hari terakhir kami di Sabu,

kami mencoba naik motor.

Kecepatannya empat kali lipat.

Bila bersepeda mengantar kami

satu tempat setiap hari,

dengan motor empat tempat

terlampaui dalam sehari.

Tapi ia mengembalikan kami

dalam siklus datang-lihat-pergi.

Tentu kami masih suka motor.

Juga mobil, pesawat, kapal,

angkot, bus, jalan kaki.

Semua punya kelebihannya masing-masing.

Kami juga tidak anti naik kendaraan.

Namun di pulau ini kami bersyukur,

pertanyaan "mengapa sepeda?"

terjawab tanpa penyesalan.

Malah bersama dengan itu,

rasa cukup dan tentram.

Chike Tania, Visual Storyteller

  • Instagram
bottom of page