top of page

04. Kupang dan keseharian

Di Kupang,

kami menyewa kamar kost untuk satu bulan.
Kamarnya sederhana,

tapi ada dapur dan meja untuk bekerja.
Juga dari beranda bisa terlihat pantai.
 

Kata Niko, markas kecil kami ini

terletak di segitiga emas.
Istilah yang ia buat

karena titik pasar, pantai,

dan 'peradaban' jika dihubungkan

akan menjadi segitiga yang mengelilingi kami.
Gampangnya, kami dekat ke pasar, ke pantai,

dan ke akses kebutuhan sehari-hari lainnya.

Sehari-hari, kami masih harus bekerja.

Seminggu pertama dihabiskan di Kupang,

bekerja secara daring.

Tapi rutinitasnya baru dan menyenangkan.
 

Pagi-pagi kami bersepeda

ke Pasar Ikan Oeba, Oebobo, atau Naikoten.
Meski harga sayur-sayuran relatif mahal,

hasil lautnya segar dan murah.

Sirih pinang ada dimana-mana.

Ada juga kain tenun.

Yang mengagetkan,

ukuran timun disini sangat besar!

 

Dari pasar, kami pasti mandi.
Udara pesisir di musim kemarau memang amat panas.
Setelah itu kami masak, makan, dan bekerja.

Sore hari kami bersepeda ke pantai.
Menikmati matahari terbenam

dan pulang setelah membeli rumput laut.

Lalu makan malam di beranda.

Ditutup dengan minum es rumput laut

kesukaan Niko.

Sebelum tidur, kami merencanakan perjalanan.

Meriset tempat, mengukur jarak,

menghitung waktu.

Kehidupan di pulau yang asik!

3.png

Chike Tania, Visual Storyteller

  • Instagram
bottom of page