top of page

08. Sambutan yang manis

Sabu, dikenal dengan sebutan pulau Lontar

(Borassus Flabellifer)

Dan bagai menggenapkan namanya,

hanya hitungan menit setelah turun dari kapal

kami sudah berada dalam sebuah rumah,

mendengarkan betapa Lontar

sangat esensial untuk orang Sabu.

Rumah itu milik Ama Arman.

(Ama : panggilan untuk laki-laki

dalam bahasa Sabu)

Ia menjual nasi kuning di depan rumahnya.

Dari sekian banyak warung makan

yang berderet-deret

di sepanjang Pelabuhan Seba,

Tuhan menuntun kami kesini.

Ama muncul dari dalam rumah

dan menyapa kami yang sedang makan

dalam bahasa Inggris.
Dengan penampilan juga sepeda kami,

kami disangka turis asing.
Niko, orang India dan saya, orang Jepang.
Kami semua tertawa.

Ama sendiri bukan orang asli Sabu.

Ia keturunan Arab.

Yang sangat khas dari penampilannya

adalah keberadaan eye shadow hitam

di bagian bawah matanya,

dan topi batik di kepalanya.
Ina Astuti, istri Ama

(Ina : panggilan untuk perempuan

dalam bahasa Sabu) 

berdarah campuran Cina-Sabu

Namun mereka lahir dan besar

di Rai Hawu, tanah Sabu.

Pembicaraan pun mengalir.

Kami lalu dipersilakan masuk ke dalam.

Di halaman belakang,

semangkuk cairan keemasan

disuguhkan pada kami.

Donahu Hawu,

atau gula Sabu, itulah namanya.

Cairan manis, kental, dan mengkilat ini
adalah makanan pokok orang Sabu.

Tanah Sabu kering, hampir mustahil

untuk bercocok tanam.

Tapi Tuhan memberkati Sabu

dengan pohon Lontar.

Air atau tuak yang keluar

dari mayang lontar jantan

diolah menjadi gula Sabu.

Cukup dipanaskan di atas kayu api,

tanpa tambahan apa-apa.

Dua sendok penuh gula Sabu

dapat memberi energi untuk bekerja

hingga siang hari.

Makan siang seperti biasa.

Lalu dua sendok lagi di sore hari

sebagai pengganti makan malam.

Ajaibnya, meskipun manis

tidak ada orang Sabu yang jadi diabetes

karena mengkonsumsinya tiap hari.
Pun, sudah banyak penelitian yang membuktikan

melimpahnya kandungan gizi pada gula ini.

Nantinya, semua penduduk yang kami temui

juga memberi kesaksian yang sama.

Tuak bisa dijadikan cuka,

dan gula sabu bisa dijadikan kecap.

Ada juga gula semut dan gula lempeng.

Ina memperlihatkan lawar

yang dibuat dari sayur laut ditambah cuka

dan irisan cabai.

Namun yang paling kami sukai

di tengah cuaca yang teramat panas,

adalah es gula Sabu.

Gula dilarutkan ke air dan ditambah es batu.

Ina membuatkan satu teko penuh untuk kami.

Kata Ina, akan lebih enak

jika ditambah perasan jeruk nipis.

Kami amat setuju!

Ditemani bergelas-gelas es gula,

siang itu kami semua banyak tertawa.

Ama ternyata seorang pemandu wisata.

Kebanyakan pelanggannya adalah turis mancanegara

Di ruang tamu, ada banyak foto bersama mereka.

Kami diceritakan berbagai kejadian lucu.

Namun yang paling mengocok perut

adalah tentang seseorang asal Cekoslovakia

Dia, entah dari mana, mendadak terinspirasi

untuk memakai seragam SD.

Iya, seragam anak Sekolah Dasar!

Kemudian meminta Ama

untuk memboncengnya naik motor,

memamerkan baju barunya itu.
Dapat ditebak, yang merasa malu

tentu bukan yang memakainya,

melainkan yang memboncengnya!

Umur serta perawakannya yang tinggi besar

jelas bukan padanan yang pas.

Ia bahkan ikut main bola bersama anak-anak SD.

Dan wahai kawan, ia memakainya

selama tiga hari berturut-turut!

Selain cerita lucu,

ada banyak juga yang mengharukan.

Dua orang asal Inggris

menjalin persahabatan yang sangat erat.

Mereka berkali-kali tinggal cukup lama.

Ama dan Ina sudah menganggap mereka

seperti anak sendiri.

Ketika salah satu dari mereka

menikah di Surabaya,

Ama dan Ina diundang dan dibiayai.

Juga ketika angin Seroja

memporak-porandakan hampir seluruh NTT,

seorang wanita asal Jepang tanpa diminta

mengirimkan uang untuk perbaikan rumah.

Ada yang tiba-tiba membelikan genset

karena di Sabu sering mati lampu.

Sebuah motor baru diberikan untuk Ama,

karena melihat begitu repotnya Ama

bolak balik mengantar anak dan cucu.

Dan masih banyak lainnya.

Kami yakin, mereka merasakan

kehangatan yang sama

yang kami terima di rumah ini.

Hubungan yang melebihi transaksi.

Ketulusan, yang tidak bisa dibuat-buat.

Sekali lagi, seakan belum cukup

mereka menyodorkan dua botol gula Sabu

sebelum kami pulang

untuk bekal kami selama bersepeda di sini,

dan menolak uang ganti.
 

Di jalan,

saat kami mengayuh ke tujuan berikutnya,

manisnya gula sabu melekat

di lidah dan terlebih di hati kami.

Tuhan telah menuntun kami,

untuk mempertemukan kami.

Tuhan telah menggelar

sebuah sambutan yang teramat manis.

*catatan :

-foto bersama Ama dan Ina diambil pada malam di hari terakhir

-tidak ada foto di bagian dalam rumah untuk menghormati privasi

-terlalu asik mengobrol mengakibatkan jumlah foto terbatas,

 tapi kenangan terbaik adanya di dalam hati *uhuk

Chike Tania, Visual Storyteller

  • Instagram
bottom of page