top of page

06. Mari menyebrang!

Sehari sebelumnya,

setelah mendapat hasil test antigen negatif,
kami memesan tiket via telepon.


Harga penyebrangan per orang

dari Pelabuhan Bolok Rp. 130.000,-

dan untuk masing-masing sepeda

dihargai Rp. 80.000,-.
Dari Pelabuhan Tenau Rp. 250.000,-

dan untuk sepeda gratis.


Kami memilih Tenau,

karena kapalnya ferry cepat.

Selain itu selisih harganya relatif kecil.

Matahari terbenam mengiringi kayuhan kami

menuju pelabuhan.

Meski KM Cantika Lestari 9C

baru akan berangkat pukul 23.00 WITA,

pintu kapal akan ditutup pukul 21.00

dan loket pembayaran akan ditutup pukul 20.15.
Karena itu kami berangkat sejak sore.
 

Dekat loket,

seorang petugas kebersihan menyapa kami,

bertanya tujuan kami dan lain sebagainya.

Lalu ia berkata sambil tersenyum,

kurang lebih seperti ini :
       "Kemanapun kalian pergi,

       jangan lupa untuk menyapa dan memberi senyum

       pada siapapun yang ditemui."


Kalimat yang sederhana,

namun sering luput.

Di tanah asing ini, kalimat tersebut

menjadi bekal penting.
 

Saat gerbang dibuka, kami pun masuk.
Titian menuju pintu kapal berupa tangga kecil

yang dibaringkan dan ditutup lembaran kayu.

Kami kesulitan menaikkan sepeda

karena titiannya hanya selebar bahu.

Orang-orang berebut masuk,

membuat keadaan makin menantang.

Kapal ferry memang bukan transportasi

yang nyaman.

Setidaknya untuk standar sebagian orang.

Di dalam penuh sesak,

manusia berhimpitan.

Penumpang, portir barang,

petugas, juga penjaja makanan.


Udara pengap dan panas,

membuat badan lengket.
Pendingin ruangan yang ada

tidak mengubah keadaan.

Tempat tidur bertingkat berjajar.

Orang berbagi ruang dengan barang.

Bau keringat, rokok, nasi bungkus,

minyak angin, campur aduk.

Namun hati saya malah membuncah.
Ada perasaan familiar

yang menjumpai saya kembali.
Keadaan asing yang malah terasa akrab.

Ketidaknyamanan yang malah nyaman.

Wajah-wajah asing yang terlihat

seperti kami sendiri,

tak lebih dari seorang musafir

yang jauh dari rumah.
"Selamat datang lagi, petualangan!",

bisik saya dalam hati.

Malam itu kami sulit tidur.
Mabuk laut, kapal berguncang hebat.
Berjalan lurus pun sulit, wajib berpegangan.

Tapi debar-debar semangat menjemput esok hari

menyala-nyala.

Chike Tania, Visual Storyteller

  • Instagram
bottom of page