Cerita-cerita kecil
09. Lopo, definisi baru rumah
Setelah meninggalkan rumah Ama,
ada pertanyaan yang harus segera dijawab :
"Di mana kita akan bermalam?".
Awalnya kami ingin menginap di sana.
Ama dan Ina sebenarnya dengan senang hati
mempersilakan kami menumpang.
Namun mereka tinggal bersama
dengan anak, menantu, dan cucu.
Tidak ada kamar tersisa.
Mereka juga tidak tega jika kami
menggelar matras di belakang.
Bermalam di hotel bukan pilihan kami.
Sebaik-baiknya adalah di rumah penduduk,
atau bila tidak memungkinkan, berkemah.
Kotak kecil di dalam gedung
dengan sistem bayar, tidur, lalu pergi,
menciptakan sekat, membatasi dialog.
Kami rindu membaur, lebur
dengan kehidupan sekitar.
Ama bilang ada Lopo
di Pantai Hewau, Raemadia.
Lopo adalah nama untuk bangunan
berbentuk seperti gazebo.
Kami boleh menginap di sana
asalkan ijin pada kepala desa setempat.
Di lokasi, lopo-lopo berjajar.
Terlihat juga sedang ada pembuatan pagar
sepanjang garis pantai di area wisata.
Lagi-lagi Tuhan menyediakan.
Dengan adanya pembangunan,
setiap malam selalu ada penduduk
yang datang untuk bekerja.
Kedatangan kami disambut ramah
oleh kepala desa yang juga ikut bekerja
pun oleh yang lainnya.
Kami tidak berharap apa-apa
selain menumpang tidur.
Tapi lalu ia menyalakan listrik
sehingga lampu di lopo kami menyala.
Stekernya jadi bisa dipakai mengisi daya
untuk ponsel dan laptop
sehingga kami bisa bekerja.
Salah satu orang tiba-tiba datang
meminjamkan perpanjangan kabel miliknya.
Pintu toilet pun dibukakan dan aliran air dinyalakan.
Lopo adalah hotel bintang seribu kami.
Lengkap dengan musik
yang mereka putar semalaman
obrolan-obrolan,
juga tawaran minum mo'ke
yang sayangnya harus ditolak.
Selain itu, taburan bintang di langit,
pemandangan pantai tiap pagi,
merah matahari terbenam tiap sore
menambah-nambah semua itu.
Memang tak seluruhnya indah.
Tanpa kipas atau AC
sepanjang waktu kami berkeringat.
Ketika air tidak mengalir
kami harus menimba di sumur.
Saya wajib berkawan dengan tokek
yang gigih bertengger siang malam
di atap yang tersusun dari daun lontar
Meski wujudnya tersembunyi di antara dedaunan
suaranya sudah cukup membuat saya bergidik.
Namun kami merasa
seperti punya rumah untuk pulang.
Bertemu dengan orang-orang
yang sama di malam hari,
merasakan keramahan yang sama
juga rasa aman.
Aneh, betapa kota dan kenyamanannya
malah terasa asing.
Sedangkan berada di tanah asing
malah terasa seperti rumah.
Lopo dan orang-orangnya yang baik,
sebuah definisi baru dari rumah.











