top of page

13. Kima

Hari itu kami mengayuh

ke Tambak Garam Kampung Lobo Bali

demi melihat kerang gigantis bernama Kima

yang dipakai untuk membuat garam.

Di sepanjang garis pantai

kami memincingkan mata

mencari hamparan Kima

seperti dalam foto di rumah Ama.

Dari kejauhan terlihat tonjolan-tonjolan putih

terang benderang diterpa sinar matahari.

Saat didekati, benar yang kami cari.

Kima-kima berukuran fantastis

terhampar di rerumputan sebelah pasir.

Namun bukan air mengkilat atau kristal garam

yang mengisi cerukannya,

melainkan pasir dan debu.
Kami bertanya-tanya.
 

Jawabannya kami temukan

saat bertanya pada Ama Mahari,

salah satu dari sekumpulan pekerja tambak garam

yang sedang duduk istirahat.

Ama Mahari paling gemar bercerita dan tertawa

diantara kawan-kawan lainnya.

Nama kesayangannya Mahari

karena nama gantungnya Dominggus.

"Dominggus, minggu, hari Minggu, Mahari, begitu."

jelasnya sambil terkekeh,

memamerkan giginya yang merah

penuh kunyahan sirih pinang.

Katanya, betul,

sekarang sudah hampir tidak ada

orang yang membuat garam dengan Kima.

Sejak teknologi tambak garam datang,

mempercepat proses berkali lipat,

Kima pun ditinggalkan.
Ia mengakui garam Kima jauh lebih berkualitas,

namun apa mau dikata.

Siang itu,

kami kembali mengayuh.

Melewati tambak-tambak garam
bagai sawah-sawah hitam.

Dan Kima-kima

bagai debu-debu putih.

Chike Tania, Visual Storyteller

  • Instagram
bottom of page