Cerita-cerita kecil
11. Pelajaran di Mabala
Hari dimana kami bersepeda
ke Gua Mabala, Eimau
pada hari kedua kami di Sabu,
adalah hari yang hingga sekarang
masih kami kenang
dengan perasaan campur aduk.
Masuk ke Gua Mabala
kami disambut lima penduduk sekitar
dan dipersilakan mengisi buku tamu.
Di Sabu, menulis di buku tamu
selalu disertai dengan
kewajiban menyisipkan uang
sejumlah yang sudah ditentukan
atau seikhlasnya.
Setelah itu, ada kotak yang harus diisi.
Boleh dengan sirih pinang atau uang.
Syarat berikutnya, memakai baju adat.
Kami dipakaikan seperangkat lengkap.
Masuk ke dalam gua, kami diminta berpose
untuk di foto berdua di beberapa titik andalan.
Satu, dua , tiga hingga puluhan foto.
Kami minta agar dihentikan,
rasanya bukan ini tujuan kami datang.
Setelahnya pun tidak banyak kesempatan
untuk melihat gua dan mendalami kisah sejarah.
Keluar gua, kami harus mencelupkan jari
ke sebuah cerukan gua yang terisi air
dan lagi-lagi membayar uang pamit.
Kemudian kami ditagih uang sewa baju
sebesar lima puluh ribu per orang.
Tentu hal-hal ini biasa,
tapi kami bisa membaca
masing-masing dari kami
merasa tidak nyaman.
Tanpa isyarat kami bersiap pamit.
Namun sebelumnya,
saya basa basi bertanya,
dimana saya bisa mencari
buah dari lontar betina yang bisa dimakan.
Katanya, mereka punya pohonnya
di halaman rumah,
dan bisa memetikkan untuk kami.
Mereka ternyata masih bersaudara,
bagian dari satu keluarga besar
yang tinggal bersama dalam satu rumah.
Hal ini memang umum dijumpai di Sabu.
Satu buah Lontar dikenai harga
yang menurut kami tidak masuk akal.
Kami menolak dengan sopan.
Pertanyaan saya menyebabkan
kami dipanggil di tengah jalan
dan ditawari singgah untuk makan lontar.
Apakah kami dijamu atau berbayar,
ini masih misteri.
Kami menolak, namun terus dibujuk.
Katanya, hanya sebentar saja.
Seorang kepala keluarga kemudian memanjat
dan menurunkan berbutir-butir lontar.
Setelah dipangkas bagian atasnya,
kami bersama anggota keluarga lainnya
duduk di rumput dan makan lontar bersama.
Meski makan dengan cemas,
momen itu sesungguhnya indah.
Kami diajari makan lontar dengan cara lokal
Menengadahkan buah dekat mulut
lalu mencelupkan ibu jari
dan mencungkil daging buah
yang keluar beserta dengan sari yang manis.
Terlontar beberapa gurauan
melihat kami makan masih berantakan.
Hati kami kembali tak karuan
ketika kami tidak diijinkan melanjutkan perjalanan.
Rencana kami untuk menginap di Lopo
yang ada di Pantai Cemara Jiwuwu
tidak mereka sarankan.
Daerahnya rawan dan lain sebagainya.
Jalan tengah kami untuk mendirikan tenda
di halaman depan juga gagal.
Mereka memanggil kepala desa,
meminta ijin untuk kami bermalam
di bangunan posyandu seberang rumah.
Apa boleh dikata, tenda kembali dibongkar.
Setelahnya, kami diajak ke pantai dekat rumah.
Beriringan berjalan kaki bersama enam lainnya.
Momen ini pun sesungguhnya menyenangkan,
Di jalan pulang, Niko balap lari
dengan salah satu anak
yang cita-citanya jadi pelari.
Sedangkan saya mencicipi buah Kom
yang dipetik di tengah jalan.
Rasanya seperti apel kecut.
Setibanya di rumah,
kami dibawa ke halaman samping.
Ada meja biliar yang ternyata
adalah usaha sampingan mereka.
Penduduk lain biasa datang tiap malam
untuk main judi hingga pagi.
Kami duduk-duduk disana,
menonton orang main biliar
sambil mengobrol dengan anggota keluarga
dan penduduk setempat.
Tentang ekonomi yang sulit,
tentang kebiasaan judi dan sabung ayam
yang menjadi keseharian mereka,
tentang pendidikan yang minim,
tentang asam garam merantau ke Jawa
menjadi kuli bangunan,
tentang adat istiadat Sabu,
sampai pemberian nama Sabu
untuk kami berdua.
Ama Madota untuk Niko,
Ina Nake untuk saya.
Disini kami mengetahui bahwa
orang Sabu punya tiga nama.
Nama gantung misalnya Niko
Nama serani misalnya Nikodemus
dan nama kesayangan misalnya Madota.
Dianggap kasar jika memanggil seseorang
dengan nama gantungnya,
dan amat sopan bila memanggil seseorang
dengan nama kesayangannya.
Malam semakin larut,
kami ijin beristirahat.
Akhirnya kami berdua saja.
Pikiran campur aduk seharian
kami tumpahkan.
Salah satu perenungan kami adalah
bahwa yang terbaik
menurut yang memberi
belum tentu terbaik
menurut yang diberi.
Mereka memberi yang terbaik
versi mereka yaitu posyandu.
Namun kami jelas lebih nyaman
tidur di tenda ketimbang berhimpitan
dengan kursi, meja, serta lemari,
di ruang posyandu yang terabaikan.
Terkadang, sebagai pendatang
kita punya sindrom pahlawan.
Membantu penduduk
dengan yang terbaik versi kita
namun bukan versi mereka.
Yang paling tahu adalah
mereka yang menjalaninya.
Bukan kita, yang datang hitungan hari
atau jam, dan merasa tahu segala.
Lalu perihal uang,
hal serupa akan terus dijumpai.
Tanpa terkecuali, di kota atau di pelosok.
Pandangan penduduk bahwa pendatang
identik dengan sumber uang,
orang berduit, kelas atas, dan sebagainya
menjadi akar dari perilaku sedemikian.
Menjadi objek,
siapa yang nyaman dibegitukan?
Kami mengalaminya, dan jelas tidak enak.
Namun pendatang pun
kerap melakukan hal yang sama.
Melihat penduduk sebagai objek langka.
Memotret sesuka hati, menerobos privasi.
Masuk ke sebuah daerah
tanpa permisi atau peduli tata krama.
Esok harinya, kami segera berkemas.
Kami memutuskan untuk memberi
uang ganti lontar dan tumpangan
dengan jumlah yang sepantasnya.
Mereka mengantar kami dengan hangat.
Diajak foto bersama puluhan kali.
Dibekali sebotol gula Sabu.
Bertukar nomor,
juga memastikan kami berjanji
akan datang lagi untuk pamit
saat hendak menyebrang balik.
Nantinya kami memang berkunjung untuk pamit.
Dengan perasaan campur aduk yang sama.
Kami disambut dan disuguhi ikan bakar,
namun juga dimintai foto KTP
jika ada salah satu dari mereka yang ke Bandung
agar bisa mendatangi alamat yang tertera.
Terlalu privat, kami menolak.
Di kemudian hari, saya mendapat Whatsapp
minta dicarikan ponsel baru.
Sungguh campur aduk.
Pelajaran yang saya petik :
tidak baik memandang seseorang
terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Sebaliknya, tidak baik
memandang diri terlalu tinggi
atau terlalu rendah.
Bahwa kita semua
hanya manusia,
dan sama-sama manusia.
*catatan :
-setelah beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk
tetap menuliskan cerita ini. Semoga tulisan ini dinilai tetap netral
dan tidak menyudutkan pihak manapun.
-tidak ada foto untuk privasi keluarga yang bersangkutan.
-silakan tetap berkunjung ke Gua Mabala,
penilaian saya bisa jadi tidak berlaku untuk orang lain