top of page

05. Menentukan arah

Empat hari sebelum menyebrang,

kami pergi survei ke dua pelabuhan.
Pelabuhan Tenau dan Pelabuhan Bolok.


Kapal ferry adalah moda transportasi

yang kami pilih untuk menyebrang lintas pulau.
Pilihan lainnya tentu ada pesawat,

tapi harganya akan menguras kantong.

Selain itu jika pesawatnya kecil,

bagasinya tidak mampu menampung sepeda.

Meskipun bisa mengecek secara online,
tapi informasinya tidak lengkap.

Kami juga ragu apakah yang tertera masih akurat.
Ada nomor yang bisa ditelepon,

tapi tidak semuanya.


Apalagi nanti,

kami akan membawa seluruh bawaan kami.
Kembali menjelma dua kura-kura

yang membawa serta seluruh rumahnya.
Tenda dan peralatan berkemah,

alat masak, pakaian, alat mandi,
laptop dan seluruh perlengkapan kerja,

perkakas sepeda,

belum lagi air dan bahan makanan.

Salah jadwal, ketinggalan kapal,

atau kehabisan tiket, tentu akan membuat

dua kura-kura ini pulang dengan kecewa.

Pelabuhan Tenau melayani penyebrangan

ke Pulau Rote, Sabu, dan Alor.
Meski kapal nya tidak bisa mengangkut mobil dan motor.
Tetapi kapalnya ferry cepat.

Untuk ke Pulau Semau, pulau kecil terdekat,

bisa dengan kapal nelayan.


Pelabuhan Bolok punya lebih banyak rute.
Perusahaannya bernama ASDP Indonesian Ferry

Selain Rote, Sabu, dan Alor,

ada juga ke Flores, Sumba, dan Lembata
Di Bolok, mobil dan motor bisa diangkut di kapal.
Namun kapalnya bukan ferry cepat.

Kapal-kapal ferry ini

ada yang langsung, ada yang transit.

Ada yang satu arah, ada yang bolak-balik.
Ada yang berangkat pagi, ada yang malam.
Ada yang sehari dua kali,

tapi tak jarang yang seminggu sekali.
Atau bahkan tidak menentu

tergantung entah apa.


Musim juga menentukan.
Memang di musim hujan cuaca lebih sejuk.
Tapi kapal akan jarang berlayar,

atau tidak sama sekali akibat ombak besar.
Kami datang di penghujung musim kemarau,

1 bulan sebelum musim hujan,
sehingga kapal masih berlayar secara normal.

Dari segala hal diatas,

kami akhirnya memutuskan ke Sabu.

Jika sempat, melanjutkan ke Raijua

dengan kapal nelayan.
Rote indah, namun sudah banyak turis.

Sumba tidak kalah menawan,

tapi kami diperingatkan sebelah baratnya rawan.
Flores amat sangat memukau,

didominasi pegunungan, tipikal Niko.
Tapi bersepeda di pegunungan Flores

dengan elevasi dashyat, membawa barang,

dan berhari-hari, kami belum mampu.
Lembata kami sudah pernah,

dan Alor belum jadi pilihan.

Ke Sabu, di laut Savu.
Pulau yang kaya dengan adat,

dengan rumah-rumah tradisionalnya.
kain-kain tenunnya yang megah.
Sabu, yang punya tradisi membuat garam

dengan Kima, kerang berukuran gigantis.
Sabu, yang belum hingar bingar,

yang masih menguncup malu-malu.

 

Sabu, ya kami akan ke Sabu!

5.jpg

Chike Tania, Visual Storyteller

  • Instagram
bottom of page