Cerita-cerita kecil
07. Menjejakkan kaki di Pulau Sabu
Adalah perbincangan semalam
yang terjadi dekat toilet
dengan seorang wanita
yang menghantar saya ke anjungan kapal,
tepat pukul 05.00 pagi itu.
Ia telah sering melintasi Kupang-Sabu
dan menurutnya saya wajib menyaksikan
matahari terbit di sini.
Jadi pagi itu, ketika alarm berbunyi,
saya bangun dan bergegas.
Sedangkan Niko memilih untuk tetap di kabin
dan menjaga barang.
Sesuai kesaksiannya, lingkaran keemasan
yang muncul perlahan di tengah lautan
yang terbentang tanpa batas
amat sepadan dengan usaha
melawan kantuk dan mabuk.
Seorang bapak yang duduk di sebelah
tiba-tiba mencolek bahu saya.
"Ada lumba-lumba di sana.",
ucapnya sambil menunjuk.
Sekitar lima lumba-lumba
berkejaran dengan gembira!
Goyangan kapal mulai reda,
tanda kapal sudah hampir merapat.
Begitu berlabuh, bagai semut.
penumpang memadati jalur keluar
Kami bersabar, menunggu giliran terakhir.
Setelah melepas rantai pengikat sepeda
pada rel pegangan di kapal,
memasang pannier,
dan keluar lewat titian yang sama,
kami kembali menapak di daratan.
Jam 07.00 WITA,
kami telah resmi berada di Pulau Sabu!
Selamat datang!


